Sabtu, 07 Oktober 2017

Tugas 1 : Dasar Komunikasi dan Komunikasi Bisnis

Addini Daulati Haqque
10214179
4EA10


Pengertian Komunikasi Bisnis
Sebelum beranjak lebih jauh pada arti komunikasi bisnis, ada baiknya kita mengetahui arti dari dua kata tersebut. Komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin, yakni Communico, Communicatio, dan Comunicare yang artinya membuat sama. Secara terminologis, kata komunikasi memiliki arti sebagai proses dalam menyampaikan gagasan dari pihak satu ke pihak lainnya.
Dari arti kedua kata di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi bisnis merupakan proses pertukaran pendapat, gagasan maupun informasi yang disajikan secara personal maupun impersonal dengan perantara simbol-simbol atau sinyal dan memiliki tujuan tertentu. Informasi maupun gagasan yang disampaikan tersebut hendaknya bersifat informatif dan persuasif, agar pihak yang lain sanggup menerima dan melakukan suatu kegiatan yang berkaitan dengan informasi tersebut.
Fungsi Komunikasi Bisnis
Suatu hal tentu saja memiliki fungsi, yang merupakan kegunaan dirumuskannya hal tersebut. Begitu pula dengan pokok bahasan kali ini. Manfaat komunikasi bisnis terdiri dari beberapa hal, yakni fungsi informatif, fungsi kontrol, fungsi persuasif/motivatif, dan fungsi emotif. Fungsi informatif, yakni fungsi yang memberikan berbagai pilihan maupun mengubah suatu keadaan bisnis, serta dalam membuat suatu keputusan.
Kemudian fungsi komunikasi bisnis selanjutnya yaitu fungsi kontrol. Fungsi ini diharapkan dapat mengendalikan dan mengawasi, yakni dengan cara menyediakan saluran feedback pada setiap kegiatan tersebut, baik secara individual maupun organisasional. Fungsi lainnya yakni fungsi persuasif/ motivatif. Dengan adanya fungsi ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif pada orang lain melalui sebuah treatment tertentu supaya orang lain dapat menerima dan bertindak sesuai yang diharapkan.
Dan fungsi yang terakhir yaitu fungsi emotif. Fungsi ini sebagai suatu alat atau cara dalam mengekspresikan emosi yang ditujukan pada penerimaan inti gagasan/ide yang disampaikan. Dengan adanya beberapa fungsi di atas, diharapkan fungsi tersebut dapat berjalan secara optimal.
Ruang Lingkup Komunikasi Bisnis
Setelah kita mengurai mengenai pengertian dan fungsi komunikasi bisnis di atas, selanjutnya kita bahas mengenai ruang lingkupnya. Pada dasarnya ruang lingkup komunikasi bisnis sangatlah luas dan lebih komplek, seperti komunikasi pada sejarah berdirinya organisasi/perusahaan hingga pengelolaan dan pengembangannya.
Beberapa ruang lingkup komunikasi bisnis yaitu pertama, komunikasi internal. Komunikasi ini berlangsung pada cakupan organisasi/perusahaan yang terjadi di antara organisasi/perusahaan tersebut. komunikasi internal dibagi menjadi tiga jenis, yaitu komunikasi vertikal (atasan dan bawahan), komunikasi horizontal (orang yang memiliki jabatan yang sejajar), dan komunikasi diagonal (orang yang memiliki jabatan yang berbeda pada posisi yang tidak sejajar vertikal).
Cakupan komunikasi bisnis kedua yaitu komunikasi eksternal, yakni komunikasi yang terjadi antara organisasi/perusahaan dan pihak luar organisasi/perusahaan seperti masyarakat. Komunikasi ini dapat terjadi melalui beberapa hal, seperti adanya pameran, promosi, publikasi, konferensi pers, radio, televisi, serta adanya kegiatan bakti sosial maupun kegiatan pengabdian pada masyarakat.

Unsur Unsur Komunikasi / Komponen Komunikasi
1.      Komunikator
Komunikator merupakan pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam proses komunikasi. Dengan kata lain, komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang memiliki inisiatif untuk menjadi sumber dalam sebuah hubungan atau interaksi.
Komunikator tidak hanya berperan sebagai pengirim pesan saja. Akan tetapi juga memberikan sebuah respon atau tanggapan dan menjawab dari proses komunikasi yang sedang berlangsung.
Baik itu secara langsung maupun tidak langsung.
2.      Pesan atau Informasi
Pesan atau informasi merupakan keseluruhan apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan bisa berupa sebuah kata-kata, tulisan, gambaran, atau sebuah perantara lainnya.
Pesan ini mempunyai inti, yaitu mengarah pada usaha untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain. Inti pesan akan selalu mengarah kepada tujuan akhir komunikasi tersebut.
3.      Sarana Komunikasi atau Channel
Sarana komunikasi atau channel dapat disebut dengan media yang digunakan sebagai penyalur pesan dalam sebuah proses komunikasi.
Pemilihan sarana atau media dalam proses komunikasi tergantung pada sifat berita yang akan disampaikan.
4.      Komunikan atau Receiver
Komunikan adalah sebutan bagi orang yang menerima pesan atau berita yang disampaikan oleh komunikator. Komunikan dapat terdiri dari satu roang atau lebih dan bisa pula dalam bentuk kelompok.
5.      Umpan Balik atau Feedback
Umpan balik bisa diartikan sebagai jawaban komunikan atas pesan yang diberikan oleh komunikator kepadanya. Pada komunikasi yang dinamis, komunikator dan komunikan akan terus menerus bertukar peran.
6.      Dampak atau Effect
Dampak adalah efek perbedaan yang dialami oleh komunikan sebelum dan sesudah menerima pesan. Apabila sikap dan tingkah laku komunikan berubah sesuai dengan isi pesan, maka komunikator telah berhasil dengan baik.

ORAL COMMUNICATION :
Terdapat beberapa unsur komunikasi, antara lainnya adalah :

Bentuk Dasar Komunikasi
      1.      Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap, dan sebagainya, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa kata-kata (Bovee dan Thill, 2003:4). Komunikasi nonvebal sering juga disebut sebagai bahasa diam (silent language). ahli antropologi mengatakan bahwa sebelum adanya komunikasi verbal, masyarakat berkomunikasi nonverbal melalui gerakan tubuh (body language).
Menurut Mark Knap (dalam Cangara, 2004:100), fungsi komunikasi nonverbal adalah :
1)      Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)
2)      Menunjukan peraaan atau emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution)
3)      Menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)
4)      Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasa belum sempurna.

Dalam berbagai studi, komunikasi nonverbal dikelompokan dalam beberapa bentuk (Cangara, 2004:101):
A.     Kinesics, yaitu komunikasi verbal yang ditunjukan dengan gerakan tubuh :
1)      Emblems, merupakan sebuah isyarat yang di buat oleh suatu budaya. Misalnya, V bagi orang amerika merupakan Victory atau kemenangan
2)      Illustrators, merupakan sebuah gerakan badan untuk mengilustrasikan sesuatu. Misalnya, Tinggi badanya seseorang, Gemuk langsingnya seseorang
3)      Affect Display, Merupakan isyarat yangbiasanya timbul karena pengaruh dari emosional seseorang. Misalnya wajah senang, wajah bete, wajah sedih. Raut Muka juga mengisyaratkan suatu pesan.
4)      Regulators, Suatu gerakantubuh yang biasanya terjadi di daerah kepala, misalnya mengangguk, menggelengkan kepala.
5)      Adaptory, suatu gerakan tubuh yang menunjukan kejengkelan pada sesuatu. Misal menggerutu, menarik napas dalam2, mengepalkan tinju.
B.     Gerakan Mata (eye gaze)
Siapa bilang mata tak dapat berbicara? Justru terkadang mata lah yang paling menunjukan ekspresi seseorang. Apakah dia sedang sebal, sedih, senang, terharu. Mata tak bisa bohong. Jika seseorang sedang suka pada pasangannya, maka tatapannya akan terasa berbeda.

C.     Sentuhan (Touching)
Sentuhan adalah sebuah isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan. Ada tiga bentuk sentuhan badan :
1)      Kinesthetic, merupakan isyarat yang menunjukan kemesraan, atau keakraban.
2)      Sociofugal, merupakan isyarat yang menunjukan awal mula persahabatan.
3)      Thermal, merupakan isyarat awal menunjukan persahabatan, namun lebih intim, misalnya menepuk bahu, adu tinju, dll.

D.     Paralanguage
Paralanguage merupakan suatu isyarat yang timbul karena adanya sebuah tekanan pada saat berbicara. sehingga pada saat si komunikator berbicara, sang komunikan sudah mengerti apa yang sebenarnya ingin dibicarakan. Contoh : ketika sang suami memanggil dengan mesra “sayaang..” maka sang istri sudah mengetahui bahwa suaminya memanggil dia.
E.      Diam
Diam juga merupakan bentuk komunikasi nonverbal. walaupun bentuk komunikasi ini merupakan bentuk yang sangat sulit untuk di terka karena bisa saja apa yang dipikirkan orang itu adalah negatif atau pun positif.

F.      Postur Tubuh
Terkadang manusia mengartikan postur tubuh secara “branding”. Bentuk Postur tubuh seseorang dapat dilihat dari 3 bentuk :
1)      Ectomorphy, tingi kurus, dilambangkan orang yangemmpunyai sikap ambisius, pintar dan kritis
2)      Mesomorphy, bentuk tubuh yang tegap dan atletis melambangkan orang tersebut cerdas, bersahabat, dan aktif
3)      Endomorphy, bentuk tubuh pendek, bulat, dan gemuk, melambangkan pribadi yang humoris, santai, dan cerdik.

G.     Warna
Warna memberikan arti pada objek. Misal warna merah tanda marah, putih suci.

H.     Bunyi
Jika Paralanguage merupakan bentuk tekanan pada suara, sedangkan bunyi adalah tekanan pada suatu benda yangmemiliki arti. Misal, tepuk tangan tanda apresiasi, peluit parkir tanda berenti atau maju. dll.
1)      Bau
Bau bisa melambangkan suatu pesan. Misalnya, wewangian kosmetik akan berbeda dengan wewangian makanan.

      2.      Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan bentuk komunikasi dimana disampaikan secara lisan atau tertulis yang menggunakan suatu bahasa. Bahasa didefinisikan sebagai seperangkat kata yang disusun secara terstruktur sehingga menjadi kalimat yang mempunyai arti. Komunikasi Verbal trbagi menjadi 2 Komunikasi lisan atau Oral Communication (berbicara dan mendengar), Komunikasi Tertulis atau Written Communication (menulis dan membaca).

A.     Berbicara
Berbicara merupakan salah satu bentuk komunikasi verbal yang bersifat oral. Berbicara sangatlah fatal dilakukan jika kita tidak mempunyai bahan dan persiapan yang matang. Karena komunikasi bersifat irresversibel (tidak dapat diulang). Sehingga apa yang kita bicarakan haruslah benar-benar baik.
Keunggulan Berbicara :
·         Tidak Merepotkan
·         Waktu yang diperlukan lebih sedikit
·         Tidak memerlukan bentuk komposisi yang baku
·         tidak perlu menulis, tidak perlu mengirimakn pesan tersebut kepada orang yang dituju (secara materil)
·         Langsung diterima komunikan
·         Ditunjang mimik wajah dan gerak tubuh
·         Feedback langsung dapat terlihat

Kekurangan :
·         Karena bersifat spontan, maka kualitas komunikasi tergantung kepada kemampuan seseorang mengucapkannya. jadi, brsifat selintas bagi audiens.
·         Jika orang lain sedang berbicara dantidak diberi perhatian, maka poin penting akan hilang.
·         Audiens seringkali melihat orang berbicara dari penampilannya. Sehingga langsung men-judge seseorang by cover.

      3.      Membaca
Prinsip-prinsip membaca
1.      Speed (Kecepatan), kecepatan membaca sangatlah berpengaruh terhadap memori kita. Namun kecepatan membaca ini pula harus dibatasi. Ketika kita membaca sesuatu yang kira-kira memerlukan pemahaman tingkat tinggi, maka kita harus membaca secara teliti (bukan berarti lambat), namun jika kira-kira bacaan tersebut kurang relevan dengan kebutuhan, maka kita dapat membacanya selintas.
2.      Comprehension (Pemahaman), pemahaman terhadap apa yang kita baca, akan berpengaruh terhadap hasil dari apa yang kita baca. Maka dalam membentuk pemahaman secara efektif maka kita harus berkonsentrasi penuh pada suatu pesan.
3.      Efisiensi, Dalam membaca kita harus memikirkan faktor efisiensi. Membaca harus dengan efisien, sehingga dapat meng efektifkan apa yang harus di pahami dalam bacaan tersebut.
4.      Retensi (penyimpanan dalam ingatan tentang apa yang kita baca). Membaca dengan baik akan mempengaruhi retensi kita. Dalam otak kita sebenarnya terdapat pilar-pilar atau rak-rak ingatan. Dimana, kita harus dapat menyimpan dan memanage informasi dalam ingatan kita.

Empat Cara Membaca agar Efisien :
1.      Carefull Reading : bahan bacaan komplek, komperhensif, dan long term retention.
2.      Rapid Reading : Bahan bacaan sederhana, ringan, gambaran menyeluruh, retensi kurang
3.      Skimming : Tidak mengingat Detail, langsungke perspektif menyeluruh
4.      Scanning : Mencari data dan fakta tertentu.

Efisiensi :
·         Konsentrasi
·         Menggerakan Mata
·         Duduk dengan tenang
·         Jangan biarkan ada noise factor
·         Garis bawahi yang penting
·         Buat Ulasan
·         Mengontrol faktor Pribadi
·         Mengontrol faktor lingkugan

Bisnis dalam Pandangan Komunikasi
Azas-azas komunikasi modern lebih menekankan kebutuhan komunikan dan kesiapan komunikasi dalam proses komunikasi. Itu lebih penting dari pada fungsi pesan dan tujuan komunikator. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang lebih modern pun lebih memperhitungkan faktor peluang daripada produksi. Ketika permintaan akan suatu barang dan jasa melebihi penawarannya, maka yang terpenting adalah bagaimana memproduksi barang dan jasa sebanyak mungkin. Tetapi ketika keadaan menjadi sebaiknya, fokus kegiatan bisnis harus tertuju pada pertanyaan “apakah peluang pasar masih terbuka?”.
Peluang pasar sebenarnya tidak selalu signifikan dengan penawaran barang dan jasa. Artinya barang dan jasa dalam jumlah banyak tidak otomatis menyebabkan pasar menjadi jenuh. Sebaliknya, jumlah barang dan jasa yang sedikit atau langka tidak selalu menyebabkan peluang pasarnya menjadi besar. Kenapa demikian?
Pertama, dalam realitas psikologis ternyata kebutuhan dapat diciptakan. Kebutuhan manusia terhadap barang. Dalam konteks ini, peluang pasar dapat dibuka melalui mekanisme komunikasi yang secara berkesinambungan membentuk nilai sosial, preferensi, dan fungsi. Terbukanya peluang pasar bagi produk minimum merupakan hasil pengkondisian yang dilakukan oleh media massa melalui informasinya. Informasi itulah yang membentuk nilai-nilai, citra (image), dan kebutuhan. Dengan demikian, kegiatan komunikasi kerapkali dilakukan terlebih dahulu untuk membentuk peluang pasar.
Kedua, peluang pasar sangat ditentukan oleh citra konsumen mengenai barang dan jasa. Jika sebuah produk mampu meyakinkan konsumen bahwa produk itu memiliki kredibilitas (dapat dipercaya), memiliki fungsi, dijamin keamanannya dan keunggulan-keunggulan lainnya, peluang pasarnya pun akan terbentuk. Masalahnya, seringkali barang dan jasa tersebut tidak diketahui oleh khalayak karena tidak ada strategi komunikasi yang benar dan memadai. Kegiatan komunikasi yang dimaksud adalah berupa promosi. Kegiatan promosi meliputi :
·         Kegiatan hubungan antar manusia (human relation)
·         Kegiatan hubungan masyarakat (public relation)
·         Kegiatan advertertising atau iklan
Kegiatan yang efektif pada saat ini adalah memperkenalkan produk melalui jasa periklanan. Melalui kegiatan periklanan target yang diharapkan adalah bahwa konsumen mengenal karakteristik produk, memahami fungsi serta keunggulan produk it, lalu menjadi yakin keuntungan memakai produk tersebut. Salah satu dalil strategi periklanan menyebutkan bahwa iklan yang efektif adalah iklan berbiaya paling rendah, dapat mencapai sasaran orang-orang yang akan membeli. Oleh sebab itu sebelum melakukan kegiatan promosi lewat iklan, terlebih dahulu perlu diperhitungkan berapa dana yang tersedia baru menentukan strategi memilih media promosi yang tepat.


Sumber :
https://taniakharismaya.wordpress.com/2015/03/16/bisnis-dalam-pandangan-komunikasi/

Tulisan 1: Putri Kecil Raja

Kyrene Alethea terdiam. Di Sun’s cafe, Kyrene dan Leo sahabat yang disayanginya ini sedang berbincang di akhir pekan yang berawan. Leo memberikan pertanyaan yang membuat Kyrene terdiam. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, hanya saja Kyrene merasa pertanyaan itu menampar Kyrene dengan apa yang telah terjadi selama ini. Awalnya Leo bertanya, “Kyrene, apa yang sudah kau lakukan untuk orang-orang disekitarmu? Sudahkah kau membahagiakan mereka? Apakah orang-orang disekitarmu sudah membahagiakanmu?”. Saat itu Kyrene hanya menjawab, “Ya, aku bahagia dengan orang-orang disekitarku. Dan aku yakin, aku sudah membahagiakan orang-orang disekitarku.”

“Aku senang mendengarnya. Jadi, siapakah yang kau maksud orang-orang disekitarmu ini?”

“Tentu saja keluargaku, sahabatku, bahkan kenalan-kenalanku.”

“Aku percaya mereka semua bahagia. Apakah orang tuamu sehat? Kapan terakhir kali kalian liburan bersama?”

“…”, Kyrene terdiam. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka liburan bersama. Semakin Kyrene mencoba mengingat, semakin jauh memori-memori kebersamaan Kyrene dengan orang tuanya. Ya, Kyrene bahkan lupa moment kebahagiaan mereka. Bagaimana mungkin hal yang diingat Kyrene adalah saat ia berlibur ke beberapa pulau dengan sahabat-sahabatnya? Apakah sudah selama itu Kyrene melewatkan moment kebersamaan dengan orang tuanya?

“Leo, sepertinya aku harus menarik kembali ucapanku. Sepertinya aku melupakan banyak hal. Aku hanya mengingat moment kebersamaan dengan sahabat-sahabatku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku meluangkan waktu dengan orang tuaku. Sepertinya aku sudah melewatkan banyak kesempatan untuk membuat orang tuaku bahagia Leo.” Kyrene tersenyum sinis. Dia kecewa dengan dirinya sendiri. Dia mengerti arah dari pertanyaan Leo. Leo berusaha menggiring pikiran Kyrene untuk membuat dirinya kembali mengingat kedua orang tuanya yang semakin hari terlihat semakin tua. Putri kecil kebanggaan mereka kini sudah tidak lagi kecil.

Sudah sejak lama Leo memperhatikan hubungan Kyrene dengan kedua orang tuanya yang merenggang. Dan Leo merasa bahwa Kyrene harus disadarkan dengan situasi tersebut. Leo bercerita bahwa kemarin, ayah Kyrene berbicara dengan Leo, lucunya pertanyaan yang ditanyakan adalah mengenai kabar Kyrene dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan Kyrene. Hal itu membuat Leo bertanya kepada ayah Kyrene mengapa tidak menanyakan langsung kepada Kyrene. Dan ayah Kyrene menjawab, “Putriku sudah tidak kecil lagi, ia sudah tidak mengadu setiap kali merasakan dan mendapatkan hal yang tidak mengenakan. Ia sudah tidak memintaku untuk menghukum orang-orang yang membuatnya kesal. Dia sudah semakin besar. Dia membatasi waktunya untuk bersamaku. Dia memiliki buku diary yang menjadi wadah untuk segala curahan hatinya.  Ia memilikimu untuk segala masukan yang harus dia dapatkan dari segala masalahnya. Bahkan Kyrene hanya sedikit membagi ceritanya kepada ibunya. Dia pulang kerumah untuk mengistirahatkan tubuhnya di kamar setelah lelahnya menjalani hari-harinya. Di waktu liburnya, dia memilih untuk berlibur dengan teman-temannya. Dia mengatasi segala kebutuhan dan masalahnya sendiri. Dia sudah tidak membutuhkan saran atau nasehat dariku. Putri kecilku tumbuh menjadi ratu yang kuat. Percayalah Leo, aku sangat bahagia dengan segala yang terjadi padanya. Dia berhasil untuk mengurus kehidupannya sendiri. Dia bahagia dengan segala yang ia punya. Dia selalu bisa tersenyum disegala permasalahannya. Hanya saja Leo, Kyrene tetaplah putri kecilku. Bagaimanapun ia tumbuh menjadi ratu yang kuat, aku tetap merindukan putri kecilku. Aku tau, aku tidak bisa membuang waktu pentingnya hanya untuk menemaniku berbincang. Aku tidak bisa untuk memintanya terus menerus untuk menjadi putri kecilku. Aku rasa, aku hanya menjadi seorang raja yang egois jika mengurung sang putri dengan menghalanginya untuk menjadi ratu kelak. Maka dari itu aku berusaha menghormati segala keputusan dan tindakannya. Aku mencoba mengerti mengapa ia sulit untuk meluangkan waktunya bersamaku. Aku bahagia atas Kyrene. Aku bahagia ia memiliki sahabat sepertimu Leo. Aku merasa kau sangat membantuku untuk memantau putri kecilku. Aku senang untuk mengetahui kabar tentang putriku. Aku berterima kasih atasmu Leo.”

Mendengar cerita Leo tersebut, Kyrene menangis. Kyrene hanya berkata, “Leo, aku ingin pulang. Aku merindukan raja dan ratuku. Aku ingin menghabiskan waktu untuk satu-satunya raja dan ratuku. Aku merindukan orang tuaku.”

Banyak hal yang terjadi setelah kita semua beranjak dewasa. Semakin banyak hal yang harus kita kerjakan, semakin banyak hal yang harus kita tinggalkan. Tidak ada salahnya menjadi dewasa. Hal itu baik untuk kelanjutan kehidupan kita kedepannya. Segala kejadian tersebut melatih bahkan memaksa kita untuk bertanggung jawab dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan kita. Seringkali hal atau seseorang yang selalu ada untuk kita malah kita sisihkan dan kita letakan di urutan terakhir dalam hidup kita hanya karena kita tau bahwa orang tersebut akan selalu ada untuk kita dan selalu mendukung kita apapun yang terjadi. Yang sangat disayangkan adalah saat kita tidak menyadari bahwa orang yang kita letakan di urutan terakhir tersebut adalah orang yang sebenarnya meletakan diri kita sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dewasa bukan hanya diukur dengan pengalaman yang banyak. Bukan hanya bagaimana kita memecahkan masalah dalam hidup kita. Dewasa juga diukur dari bagaimana kita bersikap dan bagaimana kita menghargai orang lain seperti orang lain menghargai kita, bagaimana kita meyakini bahwa kita saling membutuhkan. Karena dewasa tidak mungkin didapatkan tanpa bantuan orang lain.



       Ditulis oleh :
 Addini D. Haqque
10214179 / 4EA10

Kamis, 15 Juni 2017

TUGAS ETIKA BISNIS#

https://www.youtube.com/watch?v=Gnb74VwrHB4&feature=youtu.be


KELOMPOK 1 (3EA10):

ADDINI DAULATI HAQQUE         (10214179)
ANANDA WAHYU QUEENSILA   (10214994)
DINDA FITRI AMALIA                  (13214164)
SYIARA ALMADANI                     (1A214619)
ULI SEPTIYANA                             (1A214931)
VANIA PRICILIA                            (1A214972)

Kamis, 27 April 2017

TUGAS INDIVIDU ETIKA BISNIS#

NAMA : ADDINI DAULATI HAQQUE
KELAS: 3EA10
NPM    : 10214179

ANALISIS MERK


Sampo (bahasa Inggris: Shampoo) adalah sejenis cairan, seperti sabun, yang berfungsi untuk meningkatkan tegangan permukaan kulit (umumnya kulit kepala) sehingga dapat meluruhkan kotoran (membersihkan). Konsumen sangat memerlukan pembersih kulit kepala demi menjaga kebersihan dan kesahatan dari setiap individu. Namun belakangan ini, Sampo tidak hanya digunakan untuk membersihkan dan menyehatkan kulit kepala maupun rambut. Namun juga digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kecantikan rambut penggunanya. Hal tersebut menimbulkan persaingan yang tinggi untuk menentukan produk sampo yang paling unggul dalam membersihkan, menyehatkan, dan mempercantik rambut khususnya kaum perempuan.
Perusahaan P** juga ikut bersaing untuk menunjukan produk samponya yang tidak kalah atas pesaing-pesaing lain. P** mengeluarkan produk P****** sebagai produk andalannya. P****** merupakan produk sampo dengan formula khusus terdapat vitamin B5 yang berfungsi menguatkan rambut. Vitamin memberikan lapisan pelindung tambahan bagi kutikula yang mengalami kerusakan akibat faktor cuaca, kimiawi, dan metabolisme tubuh.
Produk P****** mempunyai varian produk yang disesuaikan dengan kebutuhan dari konsumen, yaitu :
1.    P***** Total care
2.    P***** Hair Fall Control
3.    P***** Smooth & Silky

Sampo P****** juga mengandung :
Bahan aktif  
          Sodium Laureth Sulfate (surfaktan, pembentuk busa yang baik dan kondisioner yang baik)
          Cocoamidopropil Betaine (sebagai 'surfactant‘, zat inilah yang menghasilkan busa, zat ini memiliki kegunaan yang hampir sama sebagai pembersih atau 'pembuang' kotoran yang menempel)
          Zinc pyrithione (merupakan agen antibakteri dan antijamur. Dapat mengurangi jamur di kulit kepala yang menyebabkan ketombe)
          Dimethiconol (sebagai pelembab dan mencegah iritasi pada kulit, zat ini mengandung minyak silikon yang berfungsi melembutkan kutikula rambut)
          Guar hydroxypropyltrimonium Chloride (memiliki sifat melembabkan)
          Menthol (memberikan sensasi segar)
          Panthenol (mengandung vitamin B yang bekerja luar dan dalam. Zat ini mempertahankan kelembaban rambut dan membantu shampoo untuk lebih menyerap ke dalam kutikula).

Bahan tambahan :
          Water (sebagai pelarut, lazimnya digunakan sebagai penentu kekentalan atau encernya suatu larutan)
          Sodium Chloride (digunakan sebagai pengawet )
          Perfume (Digunakan sebagai campuran dengan kegunaan memberikan aroma (bau) yang enak)
          Methylisothiazolinone (sebagai pengawet, sangat efektif terhadap jamur, bakteri Gram positif dan Gram negatif walaupun dalam konsentrasi rendah)

Bahan yang cukup berbahaya dalam shampoo : 
          Sodium lauryl sulfate
Bahan tersebut banyak terkandung pada sampo yang berfungsi sebagai pembersih dan pencipta busa. Sebenarnya bahan tersebut relatif aman, tetapi jika kontak cukup lama dengan kulit bisa menimbulkan iritasi dan memicu kulit kering. Hal itu karena detergen mengangkat lapisan lipid pada kulit. Karena bersifat pembersih, maka lemak - lemak yang berfungsi untuk melindungi kulit juga ikut larut, sehingga kulit menjadi kering dan akan mengakibatkan iritasi.


Kamis, 30 Maret 2017

TUGAS INDIVIDU ETIKA BISNIS #

NAMA            :           ADDINI DAULATI HAQQUE
NPM               :           10214179
KELAS           :           3EA10
TUGAS ETIKA BISNIS#

CONTOH KASUS ETIKA BISNIS YANG TERJADI DI DUNIA BISNIS

PT. Perusahaan Listrik Negara Persero (PT. PLN) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia. Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi PT. PLN untuk memenuhi itu semua, namun pada kenyataannya masih banyak kasus dimana mereka merugikan masyarakat. PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang pengadaan listrik nasional. Hingga saat ini, PT. PLN masih merupakan satu-satunya perusahaan listrik sekaligus pendistribusinya. Dalam hal ini PT. PLN sudah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat, dan mendistribusikannya secara merata. Usaha PT. PLN termasuk kedalam jenis monopoli murni. Hal ini ditunjukkan karena PT. PLN merupakan penjual atau produsen tunggal, produk yang unik dan tanpa barang pengganti yang dekat, serta kemampuannya untuk menerapkan harga berapapun yang mereka kehendaki. Kasus ini menjadi menarik karena disatu sisi kegiatan monopoli mereka dimaksudkan untuk kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33, namun disisi lain tindakan PT. PLN justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat. Seperti berita yang di lansirkan dari www.RRI.co .id sebagai berikut :
RRI, Surabaya : Meningkatnya kebutuhan listrik masyarakat setiap tahunnya mengalami peningkatan antara 5-6 persen, namun kondisi tersebut mengakibatkan stok listrik kian terbatas. Sudah maksimalnya beban penggunaan sejumlah Gardu Induk (GI) di wilayah Jawa Timur dan terkendalanya pembangunan GI menyebabkan kondisi kelistrikan di wilayah membuat Jatim terancam terjadi pemadaman bergilir.

Sedikitnya, ada 9 kabupaten yang terancam terjadinya pemadaman bergilir hingga dua tahun kedepan diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan. 

Dikatakan Rido Hantoro Wakil Kepala Pusat Studi Energi ITS krisis listrik tidak saja terjadi di Jatim dan Surabaya namun hampir keseluruhan pulau Jawa juga mengalami krisis listrik. 

"Hal ini dipicu terus menurunnya pasokan listrik yang bisa disuplai kepada konsumen. Program peningkatan daya sebesar 35.000 Megawatt jika terealisasi dengan cepat, kemungkinan terjadinya krisis bisa dihindari," terangnya kepada RRI, Rabu (12/11/2014).
Selain kasus diatas yang terjadi di Sidoarjo adapun kasus krisis listrik terjadi disejumlah kabupaten diseluruh daerah, kasus ini memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang.
Dikarenakan PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik secara sepihak sebagaimana contoh diatas. Kejadian ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk berinvestasi.
Penyelesaian kasus :

Pada dasarnya kegiatan bisnis tidaklah hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara melainkan perlu adanya perilaku etis yang diterapkan oleh semua perusahaan. Etika yang diterapkan oleh sebuah perusahaan bukanlah salah satu penghambat perusahaan untuk dapat berkompetisi dengan para pesaingnya melainkan untuk dipandang oleh masyarakat bahwa perusahaan yang menerapkan etika didalam perusahaan bisnis adalah sebagai perusahaan yang memiliki perilaku etis dan bermoral.
Dapat disimpulkan bahwa PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah melakukan tindakan monopoli, yang menyebabkan kerugian pada masyarakat. Tindakan PT. PLN ini telah melanggar Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat secara adil dan merata, sebaiknya Pemerintah membuka kesempatan bagi investor untuk mengembangkan usaha di bidang listrik. Akan tetapi Pemerintah harus tetap mengontrol dan memberikan batasan bagi investor tersebut, sehingga tidak terjadi penyimpangan yang merugikan masyarakat serta Pemerintah dapat memperbaiki kinerja PT. PLN saat ini, sehingga menjadi lebih baik demi tercapainya kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat banyak sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33. Selain daripada itu bukan hanya pihak pemerintahan yang harus berpartisipati kita sebagai masyarakat yang cerdas sudah seharusnya berpikir terbuka dan cerdas untuk masa depan, gunakanlah sumber daya alam yang terdapat di negeri ini secukupnya agar sumber daya alam kita tetap terjaga sehingga penerus bangsa nanti bisa merasakan sumber daya alam yang sama. Jangan memandang karena kita mampu membayar kita bisa menggunakan sumber daya alam secara berlebihan. Hal tersebut tidak etis dan tidak menunjukkan sikap masyarakat yang cerdas.

HAK PRODUSEN
·         Mendapatkan bayaran atas penyediaan dan penyaluran kebutuhan listrik untuk konsumen
KEWAJIBAN PRODUSEN
·         Menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia (Hal ini belum sepenuhnya dilaksanakan, karena masih banyak keluhan mengenai pemadaman listrik secara sepihak dengan alasan bahwa kurangnya persediaan listrik)
·         Mendistribusikan kebutuhan listrik secara merata untuk masyarakat Indonesia (Hal ini belum sepenuhnya dilaksanakan, karena masih ada daerah yang tidak mendapat aliran listrik)
HAK KONSUMEN
·         Terpenuhinya kebutuhan listrik yang diperlukan untuk sehari-hari tanpa perlu takut akan pemadaman listrik secara sepihak. (Hal ini belum terpenuhi karena masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir)
·         Mendapatkan distribusi listrik yang merata untuk masyarakat Indonesia (Hal ini belum terpenuhi karena di beberapa daerah masih ada yang belum mendapatkan aliran listrik).
KEWAJIBAN KONSUMEN
·         Membayar tarif listrik secara teratur sesuai dengan yang sudah ditetapkan.

Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos, perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.
Dua aliran etika teleologi :
·         Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
·         Utilitarianisme
Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.


Berdasarkan kasus mengenai PT. PLN tersebut, dapat dikatakan bahwa kasus tersebut berada di aliran Teleologi Egoisme Etis, hal ini dikarenakan PT. PLN bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan PT. PLN itu sendiri. Produsen mendapatkan tarif dari konsumen, namun persediaan dan pendistribusian listrik belum terpenuhi dan belum merata di Indonesia.

TUGAS KELOMPOK ETIKA BISNIS

KELOMPOK I 
MATERI KETIGA
KETUA        :
DINDA FITRI AMALIA                (13214164)

ANGGOTA  :
ADDINI DAULATI HAQQUE        (10214179)
ANANDA WAHYU QUEENSILA  (10214994)
SYIARA ALMADANI                     (1A214619)
ULI SEPTIYANA                             (1A214931)
VANIA PRICILIA                            (1A214972)

KELAS        : 3EA10

MODEL ETIKA DALAM BISNIS, SUMBER NILAI ETIKA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ETIKA MANAJERIAL

A. MODEL ETIKA DALAM BISNIS
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga tingkatan manajemen dilihat dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan etika dalam bisnisnya.
1.  Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.
2.  Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas. Kedua, tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen dengan pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara sengaja melanggar etika tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka, misalnya ingin melakukan efisiensi dan lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada di luar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.
Widyahartono (1996:74) mengatakan prinsip bisnis amoral itu menyatakan “bisnis adalah bisnis dan etika adalah etika, keduanya jangan dicampur-adukkan”. Dasar pemikirannya sebagai berikut :
Bisnis adalah suatu bentuk persaingan yang mengutamakan dan mendahulukan kepentingan ego-pribadi. Bisnis diperlakukan seperti permainan (game) yang aturannya sangat berbeda dari aturan yang ada dalam kehidupan sosial pada umumnya.
Orang yang mematuhi aturan moral dan ketanggapan sosial (sosial responsiveness) akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan di tengah persaingan ketat yang tak mengenal “values” yang menghasilkan segala cara.
Kalau suatu praktek bisnis dibenarkan secara legal (karena sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dan karena law enforcement-nya lemah), maka para penganut bisnis amoral itu justru menyatakan bahwa praktek bisnis itu secara “moral mereka” (kriteria atau ukuran mereka) dapat dibenarkan. Pembenaran diri itu merupakan sesuatu yang ”wajar’ menurut mereka. Bisnis amoral dalam dirinya meskipun ditutup-tutupi tidak mau menjadi “agen moral” karena mereka menganggap hal ini membuang-buang waktu, dan mematikan usaha mencapai laba.
3.  Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.


LEADERSHIP / KEPEMIMPINAN
            Satu hal penting dalam penerapan etika bisnis di perusahaan adalah peran seorang pemimpin/leadership. Pemimpin menjadi pemegang kunci pelaksanaan yang senantiasa dilihat oleh seluruh karyawan. Di berbagai kondisi, saat krisis sekalipun, seorang pemimpin haruslah memiliki kinerja emosional & etika yang tinggi. Pada prakteknya, dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dari seorang pemimpin dalam penerapan etika bisnis ini.
Kepemimpinan yang baik dalam bisnis adalah kepemimpinan yang beretika. Etika dalam berbisnis memberikan batasan akan apa yang yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Pemimpin sebagai role model dalam penerapan etika bisnis, akan mampu mendorong karyawannya untuk terus berkembang sekaligus memotivasi agar kapabilitas karyawan teraktualisasi.


STRATEGI DAN PERFOMASI ETIKA BISNIS   
Fungsi yang penting dari sebuah manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang jelek akan memiliki kesulitan besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut excellence harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan-kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.


KARAKTER INDIVIDU
Perjalanan hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam menjalankan fungsi-fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku para individu ini tentu akan sangat mempengaruhi pada tindakan-tindakan mereka ditempat kerja atau dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.
Semua kualitas individu nantinya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang diperoleh dari luar dan kemudian menjadi prinsip yang dijalani dalam kehidupannya dalam bentuk  perilaku. Faktor-faktor tersebut yang pertama adalah pengaruh budaya, pengaruh budaya ini adalah pengaruh nilai-nilai yang dianut dalam keluarganya. Yang  kedua, perilaku ini akan dipengaruhi oleh lingkunganya yang diciptakan di tempat kerjanya. Aturan ditempat kerja akan membimbing individu untuk menjalankan peranannya ditempat kerja. Faktor yang ketiga adalah berhubungan dengan lingkungan luar tempat dia hidup berupa kondisi politik dan hukum, serta pengaruh–pengaruh perubahan ekonomi. Moralitas seseorang juga ditentukan dengan aturan-aturan yang berlaku dan kondisi negara atau wilayah tempat tinggalnya saat ini. Kesemua faktor ini juga akan terkait dengan status individu  tersebut yang akan melekat pada diri individu tersebut yang terwuju dari tingkah lakunya.


BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu organisasi. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercayai sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas.
Budaya-budaya perusahaan inilah yang membantu terbentuknya nilai dan moral ditempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholdernya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan.
Banyak hal-hal lain yang bisa kita jadikan contoh bentuk budaya dalam perusahaan. Ketika masuk dalam sebuah bank, misalnya, satpam bank selalu membukakan pintu untuk pengunjung dan selalu mengucapkan salam, seperti selamat pagi ibu…selamat sore pak…sambil menundukkan badannya, dan nilai-nilai sebagiannya. Ini juga budaya perusahaan, yang dijadikan kebiasaan sehari-hari perusahaan.


B. SUMBER NILAI ETIKA
           Sumber-sumber yang dapat dan layak digunakan seseorang atau pelaku bisnis bagi kegiatan-kegiatan bisnis yang bernilai etika antara lain adalah: filsafat, pengalaman budaya, hukum dan agama.
  •       Filosofi

Sumber utama nilai-nilai etika yang dapat dijadikan sebagai acuan dan referensi dalam pengelolaan dan pengendalian perilaku pebisnis dengan aktifitas usaha bisnisnya adalah filsafat. Ajaran-ajaran filsafat tersebut mengandung nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari pemikiran-pemikiran filsuf dan ahli filsafat yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
·